8 Hari

posted in: Religi, Ruang Tidur | 0
foto: www.rock.rapgenius.com
foto: www.rock.rapgenius.com

1 – JUMAT
Sekitar jam 12 siang
Hp ku berdering. Waktu itu aku lagi berada dalam perjalanan pulang. Di layar tertera nama teman SMAku.

“Halo Mi, ada apa?”
“Dian, masih ingat dengan anaknya Ning?”
“Iya, kenapa?”
“Dia masuk ruang ICU di RS…. “

Ning adalah teman SMA ku juga. Dia sahabat dari temanku yang menelepon tadi. Anaknya terserang DBD. Aku terkejut mendengarnya. Kamipun berjanji menjenguk ke rumah sakit (RS) esok harinya.

2 – SABTU
Jam 11 siang
Kembali temanku itu menelepon, anak teman kami itu semalam drop.

Jam 12 menuju jam 13 siang
Aku sampai di RS bersama sahabatku. Kujumpai keluarga teman kami itu menunggu disana. Ramai sekali mereka. Raut mereka penuh kekhawatiran. Ternyata kawan kami itu di ruang ICU bersama dokter. Aku hanya bisa melihat sang anak yang posisi tempat tidurnya tepat di sudut ruangan yang terlihat dari pintu ruang yang sedikit terbuka.

Oh, dia kelihatan sudah tenang. Aku lega.

Tidak berapa lama temanku datang bersama suami dan anaknya. Kemudian teman kami itu keluar dari ICU.

“Hari Senin lalu, aku bawa Naya (nama anaknya ternyata sama dengan nama keponakanku) ke RS, dokter bilang ada kemungkinan DBD. Tapi aku pikir anak ku masuk angin. Diapun tidak mau masuk rumah sakit. Hari Rabu dia sudah tidak tahan, dibawa lagi ke RS, langsung dirujuk rawat inap dan Kamis masuk ruang ICU.” Temanku menceritakan kronologisnya.

3 – MINGGU
Jam 11:21 WIB
Sebuah SMS dari teman ku kembali:
“Assalamualaikum Dian, barusan adik ku BBMan. Dia lagi di RS, Naya gak ada harapan, tinggal nunggu waktu, keluarga juga dah ikhlas..”

Jam 11:23 WIB
“Tadi malam sempat ngak ada, tapi dipompa”

Jam 11:28 WIB
“Aku juga kemaren sudah tenang Dian, tapi malamnya dia kejang. Kasihan juga melihatnya… emang semua ditangan Allah… kita tinggal pasrah karena semua cara udah dilakukan…”

Astafirullah… membaca balasan temanku itu, aku jadi stress sendiri… aku sampai mematikan HP ku agar tenang.

Jam 12 menuju jam 13 siang
Sampai di RS. Ternyata temanku jatuh pingsan dan dirawat di UGD. Ku lihat dia terbaring lemas… matanya terpejam. Aku kemudian memegang tangannya, aku bilang dia harus kuat….

Tiba-tiba dia terbangun, sedikit menjerit:
“Dian, sakit rasanya… aku ngak mau… Naya-Naya jangan tinggalkan bunda…”

Berkali-kali dia mengatakan “Naya jangan tinggalkan bunda..”

“Ning, kau jangan su’udzon dengan Allah… anakmu masih berjuang disana… kau jangan lemah! Kau harus kuat, biar dia juga kuat..”

Jam 14 Lewat
Aku sudah lihat di ICU, sepertinya anak temanku itu sudah tidak ada. Matanya ditutup kain kasa. Jatungnya masih berdetak, tangan dan kaki masih hangat. Tapi kedua matanya setengah terbuka, keruh dan tidak bereaksi. Apakah ini berarti nyawanya diambil dari kepala? Ini karena dibantu alat. Kami sempat bacakan dzikir, dia bereaksi… aku pikir itu saatnya, aku tinggalkan ruangan agar orang tuanya saja yang di sana. Sampai saat ini dia masih ada… mungkin ini menunggu waktu yang tepat saat bundanya ikhlas….

Jam 14:40 WIB
Temanku itu duduk di sampingku di ruang tunggu ICU.

“Mengapa tidak mendampingi anakmu?”
“Aku ngak sanggup…”
“Apa yang kau takutkan?”
“Pastilah tiap orang takut kehilangan. Aku lagi mengejar Allah untuk mengabulkan doaku..”
“Tahu ngak pengabulan doa yang paling baik? Kalian sekeluarga masuk surga. Apapun doamu, ketika kau ikhlas itulah jawaban dari Nya”
“Entar ya Yan, aku mau baca Yasiin…” dia meninggalkan ku…

Jam 15:00 WIB
Dia datang lagi duduk didekatku. Dia masih bertekad untuk kesembuhan anaknya.
“Aku ngak mau memikirkan alternatif Yan, aku ngak pandai… yang aku pikir anak ku sembuh.”

Entah mengapa aku sampai disini. Padahal kemarin aku sudah menjenguk. Sebenarnya aku tidak dekat dengannya, kami lain kelas. Tapi sahabatnya selalu mengabariku. Aku berjumpa anaknya secara dekat waktu kami membungkus paket Ramadhan lalu… kami banyak bercerita tentang hidup, bagaimana dia menemukan jodohnya… dan gadisnya ini berumur 8 tahun, dia peroleh setelah 7 tahun menikah. Anaknya berada di depanku, senyum-senyum memainkan plastik kresek pembungkus paket kami. Jadi aku ingat sekali dengan dia…

Jam 4 ini ada temanku datang dari luar kota. Kami ada janji bertemu, makanya sekalian saja aku bertahan disini…

4 – SENIN dan 5 – SELASA
Tidak ada kabar berita

6 – RABU
Pukul 09:39 WIB
Kembali masuk sms dari temanku:

“Assalamualaikum. Alhamdullilah Anayah sudah stabil hari ini. Semua selang sudah dicabut dan semua darah sudah normal kembali. Semua atas ridho Allah dan bantuan doa ibu-ibu dan keluarga yang membantu kesembuhannya. Terima kasih banyak atas dukungannya, semoga Allah membalas jasa-jasanya, aamiin.”

7 – KAMIS
Tidak ada kabar berita

8 – JUMAT
Jam 12:40 WIB
Temanku kembali menelepon. Terus terang, aku selalu takut mendengar kabar darinya. Kabar baik berapa hari yang lalupun masih membuat ku terus waspada, apakah ini benar? Apakah ini hanya sebuah penghibur hati, yang sering terjadi pada orang-orang yang sakit parah?

“Dian, Naya sudah dipindah dari ruang ICU, mungkin beberapa hari lagi dia sudah bisa pulang…”

Jam 15:00 WIB
Di kamar 606 RS
Aku lihat malaikat kecil itu beristirahat… dia terlihat cantik… dia baru saja mendapat mukjizat. Hari Minggu lalu seluruh keluarga dan juga aku telah menangisinya tanda persiapan untuk perpisahan. Jarum inpus sudah tidak bisa lagi masuk melalui tangan dan kakinya. Jumat lalu dia juga sempat bilang ke bundanya, dia sudah tidak tahan lagi… tapi sang bunda menguatkan dia “Naya harus juara!”

“Aku entah bermimpi atau mengawang-awang. Aku berada di persimpangan menunggu Naya. Di depanku jalan besar lurus tidak ada hambatan yang semakin jauh semakin mengecil. Naya melihat terus ke jalan itu. Aku bilang jangan pergi kesana. Ikut bunda.. ikut bunda… kemudian aku ngak tau lagi selanjutnya…” teman ku itu mengisahkan.

“Ini adalah kekuatan doa” katanya lagi

Mataku berkaca-kaca ketika berpamitan kepada mereka, aku terharu betapa kuat kedua ibu dan anak ini, bunda dengan kekuatan doanya, sang anak dengan kekuatan perjuangannya…

Dia terbangun, tersenyum ketika abang sepupunya datang, senyumnya itu seperti aku kenal dulu, bedanya sekarang itu senyum sang juara…

Aku, aku sungguh merasa malu betapa kecilnya aku sehingga tak sanggup membaca Kebesaran Allah ku… Ampunilah aku ya Allah…

Seperti kisah seekor kodok yang menyelamatkan seekor tikus di danau yang aku posting di website ku:

“Jikalau sesuatu musibah bukan menjadi milik kita, apapun akan terjadi, bahkan ketika sudah mendekati kematian….. “

Medan, 19 Oktobber 2013
DIS

Use Facebook to Comment on this Post