IQ Baru: Imagination Quotient

posted in: Pendidikan, Ruang Ilmu | 0
Gambar: WNYC
Gambar: WNYC

 

Anak laki-laki saya memiliki gangguan bipolar dan berada di spektrum autis,  Duo yang sulit baginya, namun syukurlah dia juga diberkati dengan beberapa kelebihan – seperti imajinasi yang luar biasa. Dia bisa menonton film sekali dan kemudian menggambar gambar yang sangat rinci dari karakter utama. Dia bisa melirik sebuah buku komik secara singkat, dan kemudian menceritakan setiap aspek penampilan superhero di halaman 11 yang dia baca.

Ya, sepertinya terdengar sebagai “memori fotografik” daripada “imajinasi”.  Namun demikian Scott Barry Kaufman, seorang psikolog di Universitas Pennsylvania, mengatakan bahwa imajinasi, pada dasarnya adalah, “representasi mental dari hal-hal yang tidak segera hadir sesuai indra Anda.” Bukan hanya hal yang kita”dandani “di kepala kita. Ini juga kemampuan untuk mengingat kembali apa yang telah kita lihat, dengan membayangkannya di otak kita. Dan beberapa-seperti anak saya- memiliki kemampuan yang lebih baik daripada anak yang lain.

Tetapi bisakah imajinasi diukur dan dikuantifikasi? Itulah mengapa para ilmuwan di Imagination Institute, yang dipimpin oleh Kaufman dan berkantor pusat di Penn, mencoba mencari jawabannya. Institut yang didanai oleh John Templeton Foundation itu, berusaha untuk menghasilkan “imagination quotient ” sesuai dengan misinya, untuk membuat kemajuan “mengenai pengukuran, pertumbuhan, dan peningkatan imajinasi di semua sektor masyarakat.”

Sebuah artikel di Huff Post baru-baru ini, menjelaskan proyek ini secara lebih rinci, dan menampilkan sebuah wawancara dengan salah satu penerima dana Templeton, Jonathan Schooler dari Universitas California, Santa Barbara. Schooler dan Peneliti postdoctoral  dari UCSB Claire Zedelius sedang mempelajari bagaimana melamun mempengaruhi kreativitas, terutama tulisan kreatif – dan jika “berimajinasi kreatif” maka akan dapat menghasilkan tulisan yang lebih menginspirasi.

“50% dari setiap hari terbaik saya adalah diisi dengan beberapa lamunan,”  kata Schooler.

Wawancara bahkan membahas autisme (karena hal itu mungkin mempengaruhi Einstein), dan bagaimana “keingintahuan berdasarkan kekurangan” mungkin telah memicu pemikiran dan penemuannya.

Schooler percaya bahwa melamun di tempat kerja membuat pekerja menjadi lebih produktif.

“Kami berharap bahwa mendorong orang untuk meluangkan waktu mereka untuk melamun tentang pemikiran menarik atau aneh, dapat membantu mewujudkan kebaikan kreatif.”

Jadi, lain kali saat Anda sedang bekerja, menerawanglah entah kemana atau pikirkan susunan tim sepak bola fantasi Anda, katakan kepada atasan Anda bahwa Anda sedang “berimajinasi kreatif,” dan itu akan membuat Anda menjadi pekerja yang lebih baik.

Sumber: http://orbitermag.com/blog/new-iq-imagination-quotient/

 

 

Use Facebook to Comment on this Post