Laptop Memang Keren tapi Bukan untuk Kuliah dan Rapat

posted in: Pendidikan, Ruang Ilmu | 0

 

Gambar: Education Next
Gambar: Education Next

 

SUSAN DYNARSKI

 

Masuk ke dalam kelas di perkuliahan dan Anda sepertinya menemukan lautan mahasiswa mengetik di terangnya laptop saat professor  berbicara. Tapi Anda tidak akan menemukan hal yang demikian saat saya mengajar.

Walaupun saya membuat beberapa pengecualian, secara umum saya melarang penggunaan elektronik termasuk laptop di dalam kelas dan seminar penelitian saya.

Mungkin terlihat ekstrim. Betapapun dengan laptop, mahasiswa dapat, dalam beberapa cara, menyerap lebih banyak dari dosen daripada mereka  dapat lakukan dengan kertas dan pulpen. Mereka bisa mendownload bahan bacaan,  mencari konsep yang tidak biasa dan menciptakan akurasi, merekam dengan baik materi dari dosen. Semuanya bagus.

Namun semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa mahasiswa malah lebih sedikit menyerap ketika mereka menggunkan komputer, tablet selama perkuliahan. Mereka juga cenderung mendapat nilai yang buruk. Riset ini jelas: laptop mengalihkan perhatian dari pembelajaran baik untuk pengguna maupun orang yang ada di sekitarnya. Tidak banyak yang bisa diharapkan bahwa elektronik juga melemahkan membelajaran di SMA atau mereka malah tidak produktif di segala tugas kerja.

Mengukur efek laptop di pembelajaran tidaklah mudah. Salah satu masalahnya tidak semua mahasiswa menggunakan laptop dengan cara yang sama. Ini bisa saja mahasiswa yang berdedikasi yang ingin meraih nilai baik selalu menggunakannya di kelas. Bisa juga bahwa mahasiswa yang paling terganggu menggunakan laptop mereka ketika mereka merasa bosan. Dalam setiap kasus, perbandingan kinerja sederhana dapat membingungkan efek dari laptop dengan karakteristik mahasiswa yang memilih menggunakannya. Peneliti menyebut ini sebagai: “bias seleksi.”

Peneliti bisa memecahkan masalah tersebut dengan menugaskan secara random beberapa mahasiswa untuk menggunakan laptop. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa yang menggunakan lapotop akan bisa dibandingkan dalam segala hal dengan yang tidak menggunakan.

Dalam beberapa rangkaian eksperien di Universitas Princeton dan California, Los Angeles, mahasiswa secara random diberikan laptop atau pulpen dan kertas untuk mencatat pelajaran dari dosen. Mahasiswa yang menggunakan laptop secara substansi buruk pemahamannya terhadap kuliah dosen yang diukur dari test standar daripada yang tidak menggunakan.

Peneliti menghipotesiskan bahwa, karena mahasiswa bisa lebih cepat mengetik daripada menulis, kata-kata dosen akan mengalir tepat pada mahasiswa yang mengetik tanpa berhenti berpikir untuk pemprosesan substantif. Mahasiswa yang menulis tangan harus memproses dan mengkodensasi bahan lisan agar tulisan mereka bisa mengikuti ceramah. Memang, catatan penggunaan laptop bisa mirip dengan transkrip daripada ringkasan pengajaran. Versi tulis tangan lebih ringkas tetapi termasuk isu-isu penting yang harus didiskusikan dengan dosen tersebut.

Namun demikian, mungkin sulit untuk melarang penggunaan elektronik di kelas. Kebanyakan mahasiswa adalah warga yang bebas menggunakan properti mereka. Mengapa tidak mereka sendiri yang memutuskan menggunakan atau tidak menggunakan laptop?

Argumen kuat yang bisa melarang mahasiwa menggunakan laptop adalah bisa menggangu pembelajaran mahasiswa di sekeliling mereka. Dalam beberapa seri eksperimen di lab, peneliti di Universitas York dan McMaster di Kanada menguji efek laptop pada mahasiswa yang tidak menggunakannya. Beberapa mahasiswa diberikan tugas kecil di laptop mereka yang tidak berkenaan dengan dosen, misalnya melihat film. Seperti yang diduga, mahasiswa ini tidak bisa menyerap materi dosen. Tapi yang paling menarik, mahasiswa yang duduk dekat dengan mereka juga mendapat efek yang negatif juga.

Dalam ekonomi hal tersebut di atas adalah “ekternalitas negatif,”  yang terjadi ketika konsumsi orang membahayakan kesejahteraan orang lain. Contoh klasiknya adalah polusi: pabrik membakar batu bara atau mobil menggukan bensin bisa membahayakan udara dan lingkungan sekitarnya. Laptop juga terkadang bisa membangun polusi visual: orang di sekitarnya melihat ke layar, dan atensi mereka ke arah godaannya yang sering kali bukan mencatat tapi melihat Facebook, Twitter, email dan berita.

Penelitian ini berjalan sejauh ini walaupun tidak bisa menggambarkan efek positif dari laptop dalam kelas selama pelaksanaan semester, ketika mahasiswa menggunakan ketikan untuk catatan  dan pemeriksaan. Namun semikian, penelitian lain melakukannya.

Di Akademi Militer US, sebuah tim professor melakukan penelitian penggunaan laptop pada kelas Pengantar Ilmu Ekonomi. Pelaksanan materi dilakukan dalam sebuah kelas kecil, dimana peneliti menugas secara random dari tiga hal berikut: penggunaan elektronik diperbolehkan, penggunaan elektronik tidak diperbolehkan dan tablet diperbolehkan namun dengan posisi rata dengan meja agar professor bisa memonitor penggunaannya. Di akhir semester, siswa dengan laptop dan tablet pencapaiannya lebih buuk dari kelas yang tidak memperbolehkan penggunaan laptop.

Mungkin Anda mempertanyakan apakah pengalaman penelitian ini bisa relevan dengan kelas lain, misalnya di kelas yang belajar tentang Shakespeare. Tapi kami berpendapat juga ada efek negative dari laptop, jika bukan de kelas West Point, dimana kelas jumlah mahasiswanya sedikit dibandingkan di institusi yang lebih banyak pesertanya. Selain itu Kadet memiliki insentif agar terus melakukan yang terbaik dan menghilangkan gangguan karena berdamapak pada rangking kelas dan kepangkatan pekerjaan mereka setelah tamat.

Untuk menjawab pertanyaan ini, kemungkinan lebih baik untuk melakukan penelitian sejenis ini di lebih banyak kampus. Namun demikian, sudah cukup bukti bagi saya untuk memutuskan bahwa; saya melarang penggunaan elektronik di kelas saya.

Saya juga membuat suatu pengecualian untuk mahasiswa dengan gangguan pembelajaran, boleh menggunakan elektronik saat berpartisipasi di kelas. Dengan demikian mahasiswa yang menggunakan elektronik punya ketidakmampuan pembelajaran, akibatnya si mahasiswa menerima resiko bahwa dia mempunyai kekurangan dan mendapat waktu tambahan saat menyelesaikan test. Hal neggatif itu harus dipertimbangkan melawan pembelajaran yang hilang atas pemggunaan laptop di kelas.

Mahasiswa mungkin keberatan dengan perlakuan dilarangnya penggunaan laptop untuk mencatat di komputer mereka. Namun smartphone bisa digunakan untuk mengambil gambar catatan tangan mereka dan mengkonversikannya dalam format efektronik. Hal itu lebih baik, dimana di luar kelas, mahasiswa bisa membaca tulisan tangan mereka dan mengetikannya, jika mereka mau, sebuah proses yang bisa meningkatkan pembelajaran.

Bukti kuat sekarang telah ada dimana sebaiknya mahasiswa menghindari penggunaan laptop selama perkuliahan dan menggunakan pulpen mereka.  Ini bukan suatu hal yang perlu secepatnya diterapkan untuk anak SMA dan juga suasana kantor.

Susan Dynarski adalah seorang professor pendidikan kebijakan publik dan ekonomi di Universitas Michigan. Follow Twitter nya di: @dynarski.

Sumber: https://www.nytimes.com/2017/11/22/business/laptops-not-during-lecture-or-meeting.html?smid=tw-share

 

 

 

Use Facebook to Comment on this Post