Renungan Rezeki dari Allah SWT

Beberapa tahun yang lalu, sepulang dari pesta perkawinan seorang kolega, bos ku mengajak singgah ke salah satu Pesantren terkenal di Daerah Besilam. Walaupun begitu banyaknya orang yang kesana, bosku itu tetap keukeuh untuk minta doa ke Guru disana.

“Yan, masuk sama minta doa biar dapat jodoh dan sukses” Kata salah seorang kolega lain yang juga ikut serta dalam satu mobil. Aku hanya tersenyum, dan lebih memilih untuk menunggu si bos di bawah Mesjid yang berbentuk panggung disana.

Disana, aku berjumpa seorang bapak murid dari Guru Besilam. Akupun bertanya kepadanya:

“Pak, dengar-dengar doa Guru bapak mustajab yah?” Si bapak mengangguk.

“Apa saja yang diminta orang-orang kepada Guru bapak?” tanyaku lagi.

Bapak itupun menjawab: “Rezeki, jodoh dan bisnis.”

Mendengar jawabanyadibarengi dengan perhatian ku ke bapak yang berpenampilan sederhana itu, akupun langsung memberikan rentetan pertanyaan:

“Kalau Guru bapak doanya mustajab, mengapa bapak tidak minta doa untuk kaya?”
Si bapak menjawabnya dengan tersenyum penuh arti dan menjawab dengan tenang: “Bukan itu yang saya mau.”

“Kalau bapak tidak mau, untuk anak-anak bapak?” si bapak tetap menjawabnya dengan senyum penuh arti.

Pada titik ini, aku menghentikan pertanyaanku. Aku sudah memiliki jawabanya tanpa bapak itu menjawab pertanyaanku.

“Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS Az-Zukhruf (43) : 32)

Abi Humaid As Sa’idi mengabarkan Muhammad Saw, bersabda: “Berlaku baiklah kalian dalam menuntut dunia, karena setiap orang telah dimudahkan untuk apa dia diciptakan di dunia ini.” (HR. Ibnu Majah)

Abi Sa’id Al Khudri menyampaikan, Muhammad Saw, bersabda: “Apabila seseorang di antara kamu lari dari rezekinya, tentu rezeki itu akan mengejarnya seperti maut mengejar dirinya.” (HR. Thabrani)

Dari keterangan hadist pertama dijelaskan bahwa ketika seorang ditetapkan misalnya perannya sebagai seorang pedagang, maka ia akan dimudahkan dan nyaman menjadi pedagang dan seterusnya.

Atas dasar inilah begitu aku mendengar mengenai buku “Secret” yang mengemparkan dunia itu, aku menolaknya!

Dalam buku itu pengarang mengatakan bahwa ketika seorang memiliki keinginan yang kuat terhadap sesuatu, maka bumi ini akan sedaya upaya bekerja dan mengantarkan keberhasilan itu untuk dirinya. Dengan kata lain manusialah yang berkuasa akan kehidupannya dengan menghidupkan keinginannya! SALAH BESAR DAN MENYESATKAN!

Bukan keinginan kuat manusia yang membuat bumi ini bekerja untuk mencapainya, tapi ketetapan akan rezekinya dari Allah SWT lah yang membuat bumi ini mengerahkan segala isinya untuk orang tersebut. Sehingga ketika seorang tidak memaksimalkan kapasitasnya, maka kapasitas yang menggangur itulah yang memangil-manggil orang tersebut untuk menemui takdirnya.

Pernah galau kepada sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan? Kemungkinan besar, ada kapasitas kamu yang tidak maksimal!

Ada tiga sikap manusia dalam menghadapi ketidakmaksimalan kapasitasnya dalam dirinya:
Marah dan terus mengeluh.
Menerima ketidakmampuan untuk mengunakan kapasitas dengan ikhlas.
Mencari dan terus mencari sehingga ia menemukan kapasitasnya.

Dalam mencari dan menemukan kapasitas ini, seseorang akan dihadapkan cobaan hidup: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan SEDIKIT ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan…. “(QS. Al Baqarah (2) : 155)

Jikalau Allah mengatakan bahwa cobaan kita itu adalah sedikit, mengapa kita harus panik dan putus asa? Mengapa kita harus mengeluh? Iri? Dan berbuat curang? Semua telah dijamin oleh Nya, yang harus kita lakukan adalah merasa cukup dan bersabar.

Sa’id bin Abi Waqash menuturkan, Muhammad SAW, bersabda: “Sebaik-baik dzikir adalah sepi dan pelan. Sebaik-baiknya rezeki adalah yang cukup.” (HR. Abu ‘Awanah dan Ibnu Hiban)

Cukup dalam arti:
Apa yang dimakan lalu habis.
Apa yang dipakai lalu rusak dan
Apa yang disedekahkannya lalu tersimpan (untuk Akhirat).

Jikalau kita meniatkan semua karena Allah SWT, maka Allah akan menunaikan janji-Nya: “……Dan berilah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (QS. Al Baqarah (2) : 155) “…..Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. AT. Talaq (65) : 2-3)

Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari angan-angan dan kesedihan. Aku berlindung kepada-Mu dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada-Mu dari takut dan kikir. Aku berlindung kepada-Mu dari himpitan hutang dan tekanan orang-orang yang berkuasa. Aamiin, Aamiin, Aamiin Yarabbalalamin…

Alhamdullilah…

Wa Allah A’lam.

Medan, Jumat 13 April 2012
DI

Use Facebook to Comment on this Post

2 Responses

  1. Saya dah search mengenai topic nie… dan setakat pencarian saya.
    .. karya awak antara yang terbaik.. teruskan berkarya.
    .. dari peminat blog awak… :)

  2. Saya jumpa blog nie kat FB… ada kawan share post nie..
    . tahniah … betul komen kawan saya tu … blog nie memang terbaik.
    . :)

Leave a Reply